Rabu, 08 Mei 2013

Objek Kajian Geografi

Geografi sebagai salah satu disiplin ilmu tentu memiliki objek kajian tersendiri, yaitu berupa obyek matrial dan obyek formal. Obyek material berkaitan dengan substansi materi yang dikaji, sedangkan obyek formal berkaitan dengan pendekatan (cara pandang) yang digunakan dalam menganalisis substansi (obyek material) tersebut.

Objek Material
Objek material yaitu objek yang meliputi letak dan fenomena yang terjadi di geosfer, dimana objek ini merupakan sasaran atau yang dikaji dalam studi geografi. Objek studi geografi tersebut meliputi lapisan-lapisan bumi atau tepatnya fenomena geosfer, diantaranya
  • Atmosfer, yaitu lapisan udara : cuaca dan iklim yang dikaji dalam Klimatologi dan Meteorologi.
  • Lithosfer, yaitu lapisan batu-batuan yang dikaji dalam Geologi, Geomorfologi, Petrografi.
  • Hydrosfer, yaitu lapisan air yang dikaji dalam Hidrologi dan Oceanografi.
  • Biosfer, yaitu lapisan kehidupan: flora dan fauna yang dikaji dalam Biogeografi am Biologi.
  • Anthroposfer, yaitu lapisan manusia.
Objek Formal
Objek formal yaitu merupakan cara pandang dan cara pikir terhadap objek material geografi yang dilihat dari segi keruangan, kelingkungan, dan kompleks wilayah, serta waktu. Kalau objek material geografi bersangkut-paut dengan bahan kajian, maka objek formal geografi bersangkut-paut dengan cara pemecahan masalah. Jadi objek formal adalah metode atau pendekatan yang digunakan dalam mengkaji suatu masalah.
  • Aspek Keruangan yaitu mempelajari suatu wilayah antara lain dari segi nilai suatu tempat. Dimana selanjutnya kita dapat mempelajari tentang letak, jarak, dan keterjangkauan.
  • Aspek Kelingkungan yaitu mempelajari suatu tempat yang berkaitan dengan keadaan tempat tersebut dan komponen-komponennya dalam satu kesatuan wilayah. Komponen-komponen itu terdiri dari komponen tak hidup seperti tanah, air, iklim, dan komponen hidup seperti hewan, tumbuhan serta manusia.
  • Aspek Kewilayahan yaitu mempelajari kesamaan dan perbedaan wilayah serta ciri-ciri khas dari wilayah tersebut. Dengan demikian lalu muncul pewilayahan atau regionalisasi misalnya kawasan gurun, yaitu daerah-daerah yang mempunyai ciri-ciri serupa sebagai gurun.
  • Aspek Waktu yaitu mempelajari perkembangan wilayah berdasarkan periode-periode waktu atau perkembangan dari waktu ke waktu. Misalnya perkembangan kota dari tahun ke tahun, kemunduran garis pantai dari waktu ke waktu dsb.
MANFAATNYA BAGI PEMBANGUNAN
  • Memetakan persebaran fenomena yang terjadi di permukaan bumi sebagai pembelajaran untuk memajukan suatu daerah.
  • Sebagai acuan untuk penentuan lokasi pertanian, industri dan permukiman masyarakat yang aman.
  • Untuk penentuan lokasi trasmigrasi yang lebih baik.
  • Sebagai pengembangan sarana transportasi.
  • Potensi dan pemanfaatan sumber daya.
  • Untuk menyelesaikan masalah sosial dan kemasyarakatan.

Rabu, 23 Januari 2013

Geografi dan Ilmu Lingkungan

Geografi dan Ilmu Lingkungan merupakan salah satu Prodi di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada yang berada di bawah asuhan Jurusan Geografi Lingkungan. Sebelumnya prodi ini merupakan merger dari tiga prodi (Geografi Manusia, Geografi Umum, Geografi Fisik Lingkungan). Berbeda dengan Program Studi Geografi di Universitas lainnya, di Geografi dan Ilmu Lingkungan UGM ini selain dipelajari mengenai ilmu geografi juga dipelajari mengenai ilmu lingkungan. 

Gambar Fakultas Geografi UGM

Gedung kuliah Geografi dan Ilmu Lingkungan atau Fakultas Geografi beralamat di Sekip Utara Jalan Kaliurang, Bulaksumur, Yogyakarta. Secara absolut Fakultas Geografi berada pada zona 49 M 0431334 mT 9141460 mU dan dilihat dari posisi relatifnya berada di Kluster Sains sebelah Utara Fakultas MIPA Utara dan Timur Fakultas Biologi.

Gambar Citra Google Earth Fakultas Geografi UGM

Program Studi Geografi dan Ilmu Lingkungan menghasilkan sarjana sains (bergelar S.Si.) dengan kompetensi ahli geografi dan ilmu lingkungan yang bermoral berdasarkan jatidiri bangsa dan mampu:
  1. Mengembangkan ilmu geografi dan ilmu lingkungan, ketrampilannya serta memanfaatkan konsep geografi dan ilmu lingkungan dengan baik sesuai ruang dan waktu;
  2. Melakukan analisis dan sintesis yang mendasarkan pada pemikiran geografi dan lingkungan serta penalaran logis;
  3. Mengembangkan kompetensi pengetahuan dan ketrampilan geografi dan lingkungan yang dimiliki untuk melakukan prediksi terhadap kecenderungan perubahan yang terjadi di lingkungan alam dan masyarakat;
  4. Membekali diri untuk dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi.
Program Studi Geografi dan Ilmu Lingkungan telah terakreditasi A : SK BAN-PT No. 028/BAN-PT/Ak-XII/S1/IX tanggal 16 September 2009. Selain itu Fakultas Geografi juga telah memperoleh sertifikasi internasional dalam jaminan mutu akademik, yaitu ISO 9001:2008 Tentang Jaminan Kualitas Mutu Akademik (TUV-Germany) dan ISO 17025 Tentang Jaminan Kualitas Mutu Laboratorium Hidrologi dan Kualitas Air (KAN). Program Studi Geografi dan Ilmu Lingkungan juga melakukan kerjasama pendidikan, baik kerjasama dalam negeri dan juga kerjasama tingkat internasional dengan ITC Enschede, Cologne University (Jerman), Chiba University (Jepang) dan University of Utrecht (Belanda). 

Untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa Geografi dan Ilmu Lingkungan dalam memenuhi kompetensi tersebut, Pogram Studi Geografi dan Ilmu Lingkungan menunjang dengan fasilitas-fasilitas pendidikan yang tersedia, diantaranya:
  1. Laboratorium Geomorfologi Dasar
  2. Laboratorium Geografi Tanah
  3. Laboratorium Hidrologi dan Kualitas Air
  4. Laboratorium Geohidrologi
  5. Laboratorium Geomorfologi Terapan
  6. Laboratorium Hidrometeorologi
  7. Laboratorium Permukiman dan Sumberdaya
  8. Laboratorium Kependudukan dan Tenaga Kerja
Selain mengikti kegiatan perkuliahan dengan mata kuliah terkait Geografi dan Ilmu Lingkungan yang beragam, mahasiswa Geografi dan Ilmu Lingkungan juga dapat mengembangkan kemampuan berorganisasi dengan mengikuti organisasi kemahasiswaan yang ada di Fakultas Geografi, yaitu :
  1. Badan Eksekutif Mahasiswa-Keluarga Mahasiswa (BEM-KM), Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada
  2. Himpunan Mahasiswa Jurusan Geografi Lingkungan, Environmental Geography Student Association (EGSA)
  3. Unit Kegiatan Mahasiswa Muslim Fakultas Geografi UGM : Jama’ah Musholla Geografi (JMG)
  4. Unit Kegiatan Mahasiswa Kepencintaalaman Fakultas Geografi UGM : GEGAMA
  5. Unit Kegiatan Mahasiswa Pengembangan Pemikiran dan Keilmuan Geografi : Geography Study Club (GSC)
  6. Unit Kegiatan Mahaiswa Kesenian Fakultas Geografi UGM : Bengkel Kesenian Geografi (BEKAGE)
Selanjutnya alumni Geografi dan Ilmu Lingkungan tersebar diberbagai instansi antara lain: Badan Pertanahan Nasional (BPN), Dinas Pekerjaan Umum (PU), Badan Koordinasi dan Survai Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL), Departemen Kehutanan, BAPPEDA, Badan Pusat Statistik (BPS), Depnakertrans, LIPI, BNPB, Dinas Kesehatan, dan Instansi yang lain. Swasta terkait geografi dan ilmu lingkungan adalah PT ENVICOM, PT Waindo Spec Terra, PT EXSA, ER MAPPER, ESRI, dan lain sebagainya.


Selasa, 30 Oktober 2012

Pojok Delayota


Delayota, SMAN 8 Yogyakarta akan selalu dikenang oleh siswanya meskipun telah menjadi seorang alumni, begitulah ungkapan dari banyak alumni delayota. Tak hanya sekolah, semua hal yang ada di delayota memiliki kenangan tersendiri bagi tiap siswa di delayota. Kelas, kantin, mushola, lapangan, ruang OSIS, parkiran, atau lorong-lorong sekolah adalah saksi bisu yang mengiringi perjuangan mereka selama masa putih abu-abu.

Ruang kelas 12 IPA 4 (tahun 2012)

Di ruangan ini banyak cerita yang telah kami ukir di dalamnya, kami belajar bersama menuntut ilmu, bermain, bahkan sekedar melakukan hal konyol. Suka duka kami jalani bersama di kelas ini, karena inilah rumah kedua kami, tempat keluarga kedua kami tinggal di delayota.

Lapangan Sepak Bola

Memang tak sehijau rumput tetangga, tapi disinilah bibit-bibit baru muncul. Lapangan SMAN 8 Yogyakarta yang kering ketika kemarau dan tergenang saat hujan mengguyur, tapi kami tetap bangga pernah memijakkan kaki kaki di atas tanah lapang ini.

Lapangan Basket

Bukan cuma saat olahraga, bukan cuma sepulang sekolah, saat pelajaran pun kami sering bermain di tempat ini, di lapangan basket untuk sekedar melepas penat dan pikiran, dan tempat ini lah saksi kami ketika membolos pelajaran kemudian bermain futsal atau basket bersama
.
Lobi SMAN 8 Yogyakarta

Disinilah awal kami memijakan kaki, tempat awal sebelum memasuki delayota, sekolah tercinta. Dapat terlihat jelas simbol Pakci bertuliskan SMAN 8 Yogyakarta. Kami bangga pernah menjadi bagian dari sekolah ini.

Gazebo Tengah

Tempat  favorit nan sejuk ditengah lingkungan SMAN 8 Yogyakarta, menjadikan gazebo tempat yang cocok untuk sekedar duduk berbincang menghabiskan waktu usai pulang sekolah. Gazebo syarat dengan goresan kenangan siswa delayota, menjadi saksi bisu perjuangan siswa delayota.

Jumat, 03 Agustus 2012

SMAN 8 YOGYAKARTA

Sekolah Menengah Atas Negeri 8 Yogyakarta atau SMAN 8 Yogyakarta dahulunya adalah bernama Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan 10 (SMPP 10) yang oleh banyak kalangan saat ini lebih dikenal dengan sebutan DELAYOTA, merupakan salah satu sekolah favorit di Yogyakarta. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 235/O/1973 tertanggal 18 Desember 1973, Sekolah Menengah Penbangunan Persiapan (SMPP) di Indonesia sejumlah 34 buah sekolah (termasuk SMPP 10 Yogyakarta) pada hari Selasa Pahing tanggal 8 Januari 1974 kegiatan belajar mengajar SMPP 10 Yogyakarta dengan menempati gedung baru berlantai dua. Sebagai penyelenggara kegiatan proses belajar mengajar di serahkan SMA Negeri 5 Yogyakarta yang waktu itu dipimpin oleh Bapak R. Muh. Solihin, dengan jumlah siswa 196 orang terbagi dalam 5 kelas.

Pada tanggal 1 April 1975 sejumlah 21 orang guru dan 12 orang karyawan tata usaha dengan resmi dimutasi dari SMA Negeri 5 Yogyakarta ke SMPP 10 Yogyakarta. Pada tahun pelajaran 1976 SMA 5 Yogyakarta dipindahkan ke lokasi baru yaitu Desa Tinalan, Kecamatan Kotagede Yogyakarta. Oleh karena itu SMPP 10 Yogyakarta harus berusaha melengkapi meja dan kursi siswa yang jumlahnya tidak sedikit. Namun kerjasama sekolah dengan BP-3 serta bantuan Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta maka kekurangan tersebut dapat diatasi.
Tahun pelajaran 1977 SMPP 10 Yogyakarta ditunjuk oleh Depdikbud menjadi sekolah Pradiseminasi untuk sistem pengajaran dengan modul. Pada tahun pelajaran 1980/1981, nama SMPP 10 Yogyakarta semakin terkenal dalam masyarakat. Akibatnya animo untuk masuk SMPP 10 Yogyakarta semakin besar.
Pada tahun pelajaran 1982/1983 SMPP 10 Yogyakarta mendapat kepercayaan Dekdikbud untuk melaksanakan sistem belajar tuntas (mastery Learning) pendekatan seluruh kelas (pada waktu itu jumlah kelas 12 buah, masing-masing tingkat 4 kelas). Tahun pelajaran 1985/1986 terjadi perubahan nama SMPP 10 Yogyakarta menjadi SMA 8 Yogyakarta. Pada tahun ini juga diberlakukan kurikulum 1984 dengan penjurusan di kelas dua dengan 4 program pilihan yaitu A1 untuk program IPA, A2 program Biologi, A3 program IPS dan A4 program ilmu pengetahuan Bahasa.

Riwayat singkat SMA Negeri 8 Yogyakarta tidak dapat meninggalkan riwayat SMPP 10 Yogyakarta, karena secara kelembagaan SMA Negeri 8 Yogyakarta adalah nama baru SMPP 10 Yogyakarta. Perubahan nama berdasarkan surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.0353/O/1985 tertanggal 8 Agustus 1985, tentang perubahan nama Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan (SMPP) menjadi Sekolah Menengah Atas (SMA). Selanjutnya dengan instruksi Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 01/F/96 tertanggal 17 Januari 1986 tentang perubahan nama SMPP 10 Yogyakarta menjadi SMA Negeri 8 Yogyakarta.

Dengan perjuangan sekuat tenaga baik kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, selangkah demi selangkah prestasi SMA 8 terus meningkat baik prestasi akademik maupun non akademik. Hal ini terlihat dari rata-rata nem EBTANAS maupun keberhasilan dalam menempuh UMPTN dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Prestasi non akademik (bersifat Ekstrakurikuler) hal ini dapat dari peroleh penghargaan/ piala/ tropi kejuaraan apabila dibuat rata-rata dalam satu bulan mendapat 5-10 buah tropi kejuaraan dalam berbagai kegiatan. Itulah perjalanan SMA Negeri 8 Yogyakarta yang semula bernama SMPP 10 Yogyakarta.

Minggu, 29 Juli 2012

Hidraulika Dasar

Hidrolika adalah ilmu yang mempela jari perilaku zat cair terutama air, baik  dalam kondisi diam maupun dalam kondisi  bergerak. Perilaku zat cair (air) dalam keadaan diam dipejari dalam hidrostatika, sedangkan perilaku zat cair (air) dalam keadaan bergerak dipelajari dalam hidrodinamika.

Hidrostatika secara definisi merupakan bagian dari hidraulika yang  membahas dan menjelaskan kondisi zat cair dalam keadaan diam yang biasanya memiliki permukaan konstan, misalnya air dalam kolam atau danau. Dalam hidrostatika ini dibahas mengenai tekanan yang bekerja pada zat cair, adanya variasi tekanan sebagai fungsi jarak vertikal, alat-alat yang digunakan untuk mengukur tekanan hidrostatik. gaya tekan yang bekerja pada permukaan datar dalam zat cair sekaligus pada benda yang bekerja pada zat zair yang bersangkutan, serta penggunaan permasalahan hidrostatika dalam praktek di lapangan.

Hidrodinamika secara definisi merupakan kebalikan dari ilmu hidrostatika, yaitu merupakan bagian dari hidraulika yang  membahas dan menjelaskan kondisi zat cair dalam keadaan bergerak atau mengalir, seperti aliran sungai atau aliran pada pipa. Dalam hidrodinamika ini dipelajari mengenai jenis-jenis aliran air, pengukuran kecepatan aliran dan debit aliran, aliran melalui berbagai alat hidraulika sederhana, seperti lubang dan peluap, serta alat-alat pengukuran yang digunakan dalam mengukur kajian ilmu hidrodinamika.

Dalam dunia Teknik Sipil, penerapan ilmu hidraulika ini erat kaitannya dengan struktur dan mekanisme air mengalir, sehingga dalam pembangunan suatu konstruksi seperti bendungan, selokan, dan lain sebagainya dapat dikontrol secara matematis menggunakan perhitungan-perhitungan rumus hidraulika.

Materi kuliah Hidaulika Dasar 1 Download
Materi kuliah Hidaulika Dasar 2 Download
Materi kuliah Hidaulika Dasar 3 Download
Materi kuliah Hidaulika Dasar 4 Download
Materi kuliah Hidaulika Dasar 5 Download
Materi kuliah Hidaulika Dasar 6 Download
Materi kuliah Hidaulika Dasar 7 Download
Materi kuliah Hidaulika Dasar 8 Download


Tumpuan Struktur Bangunan

Tumpuan pada struktur bangunan pada umumnya bermacam-macam bentuknya, tetapi secara struktur bentuk tumpuan setiap konstruksi adalah sama, yaitu :

Tumpuan Sendi

Definisi umum: tumpuan sendi dapat menerima gaya dari segala arah tetapi tidak mampu menahan momen. Dengan demikian tumpuan sendi hanya mempunyai dua gaya reaksi yaitu reaksi vertikal (RV) dan reaksi horisontal (RH).

Dalam kehidupan sehari-hari, tumpuan sendi paling banyak ditemui pada konstruksi jembatan, seperti pada Jembatan Kali Gajahwong yang berada di Jalan Kusumanegara, Yogyakarta dan Jembatan Kali Progo di daerah Boyolali. Dimana salah satu tumpuan jembatan adalah tumpuan sendi.


Gambar 1.1 Sendi Jembatan Kali Gajahwong

Pada Jembatan Kali Gajahwong bentuk tumpuan sendi berbentuk seperti pada umumnya, dimana ada 2 segitiga yang mengapit sebuah rol sehingga tumpuan tersebut akan mampu menerima gaya baik vertikal maupun horizontal. Di Jembatan ini, terdapat 4 tumpuan sendi sekaligus yang terletak sejajar menyamping di bawah jembatan.


Gambar 1.2 Sendi Jembatan Kali Progo

Pada Jembatan Kali Progo di Boyolali bentuk tumpuan sendi berbentuk seperti ada 2 lingkaran yang membentuk sebuah sendi pada satu tumpuan. Bentuk sendi pada jembatan ini berbeda dengan bentuk sendi pada jembatan sebelumnya. Pada jembatan modern (baru) bentuk sendi sudah mengalami berbagai variasi salah satunya seperti pada Jembatan Kali Progo di Boyolali. Tetapi meskipun berbeda bentuk, sendi pada jembatan ini tetap memiliki konsep yang sama dengan sendi pada umumnya yaitu dapat menerima gaya dari segala arah tetapi tidak mampu menahan momen.

Kesimpulan:
Ada bermacam-macam bentuk atau variasi sendi pada tiap jembatan dan sendi dapat diartikan struktur yang tidak mengalami defleksi arah vertikal maupun horizontal dan hanya mengalami rotasi pada tumpuannya. 

Tumpuan Rol 

Definisi umum: Tumpuan rol hanya dapat menerima gaya tegak lurus, dan tidak mampu menahan momen. Dengan demikian tumpuan rol hanya dapat menahan satu gaya reaksi yang tegak lurus (RV).

Dalam kehidupan sehari-hari, tumpuan rol paling banyak ditemui pada konstruksi jembatan sama seperti tumpuan sendi, seperti pada Jembatan Kali Gajahwong yang berada di Jalan Kusumanegara, Yogyakarta dan Jembatan Kali Progo di daerah Boyolali. Dimana salah satu tumpuan jembatan adalah tumpuan sendi.



Gambar 2.1 Rol Jembatan Kali Gajahwong

Pada Jembatan Kali Gajahwong bentuk tumpuan rol terlihat jelas seperti pada gambar 2.1 dimana tumpuan tersebut akan mampu menerima gaya secara vertikal. Di Jembatan ini, terdapat 4 tumpuan rol yang terletak sejajar menyamping di bawah jembatan. Letaknya sendiri berada di sisi lain atau bersebrangan dengan letak tumpuan sendi.



Gambar 2.2 Rol Jembatan Kali Progo

Pada Jembatan Kali Progo, sama seperti tumpuan sendi di jembatan ini, bentuk tumpuan rol pada jembatan ini pun memiliki variasi bentuk yang berbeda dengan rol pada umumnya. Rol di Jembatan ini terdapat 2 buah rol yang berjajar dan bentuknya hampir menyerupai katrol. Letaknya pun bersebrangan dengan letak tumpuan sendi.

Kesimpulan:
Terdapat variasi bentuk rol pada tiap jembatan dan rol dapat diartikan struktur yang tidak mengalami defleksi vertikal dan memiliki rotasi serta defleksi horizontal. 

Tumpuan Jepit
Definisi umum: Tumpuan jepit dapat menahan gaya ke segala arah dan dapat menahan momen. Dengan demikian jepit mempunyai tiga reaksi yaitu reaksi vertikal (RV), reaksi horisontal (RH) dan reaksi momen (RM).

Dalam konstruksi bangunan, tumpuan jepit banyak ditemui di berbagai tempat, baik itu di kontruksi bangunan publik maupun pada konstruksi rumah sekalipun.




Gambar 3.1 Tumpuan Jepit di Rumah

Tumpuan jepit hampir di semua konstruksi bangunan gedung memiliki bentuk yang sama, hanya ukurannya saja yang berbeda. Seperti pada gambar 3.1 dimana balok disilangkan dengan kolom. Dan pada persilangan atau perpotongan itulah yang dinamakan tumpuan jepit.



Gambar 3.2 Tumpuan Jepit Stadion Sultan Agung

Pada konstruksi bangunan besar, seperti Stadion Sultan Agung, Bantul pun memiliki tumpuan jepit yang sama seperti pada konstruksi rumah. Dimana kolom dan balok disilangkan untuk membentuk tumpuan jepit. Pada  Stadion ini, terdapat banyak sekali tumpuan jepit dengan ukuran yang bervariasi, karena ukuran Stadion ini sendiri memang besar.

Kesimpulan:
Tumpuan jepit paling banyak ditemukan di berbagai konstruksi bangunan daripada tumpuan rol dan sendi. Tumpuan Jepit dapat diartikan struktur yang tidak mengalami rotasi, serta defleksi dalam arah vertikal maupun horizontal.

Komputer Grafis Struktur Bangunan

Komputer Grafis Struktur Bangunan sebenarnya berkiblat pada kemampuan grafis dalam komputer, atau secara umum bisa disebut gambar teknik. Dalam Komputer Grafis Struktur Bangunan juga digunakan aplikasi penunjang seperti AutoCAD. Perbedaannya dengan gambar teknik lainnya adalah isi dari gambar tersebut, dimana dalam Komputer Grafis Struktur Bangunan ini hanya dipelajari mengenai segala hal yang berkaitan dengan bangunan yang kemudian diaplikasikan ke dalam bentuk digital.

Nah, berbicara soal gambar bangunan, apakah perbedaannya dengan jurusan Arsitek? Jawabannya jelas berbeda. Arsitek tentu lebih melihat dari sisi seni, sedangkan Teknik Sipil lebih melihat ke struktur atau kekuatan suatu bangunan, sehingga apabila diterapkan dalam aplikasi ( AutoCAD ) arsitek akan menampilkan bentuk bangunan yang dibuatnya ke dalam bentuk 2D dan 3D, karena bentuk atau hasil karyanya akan terlihat jelas saat ditampilkan dalam wujud 3 dimensi. Sedangkan Teknik Sipil, cukup menampilkan bentuk atau hasil karyanya ke dalam wujud 2 dimensi, karena secara keseluruhan lebih menonjolkan aspek struktur dan kekuatan bangunan.

Dalam pembuatan Grafis Struktur Bangunan menggunakan AutoCAD, diperlukan keahlian, ketelitian, dan juga kesabaran. Keahlian diperlukan untuk membuat tampilan yang mudah dibaca dan dipahami orang lain secara universal, ketelitian diperlukan karena ukuran yang digunakan merupakan ukuran yang sebenarnya ( dikonversikan menggunakan skala ), dan kesabaran diperlukan karena banyaknya garis dan perhitungan akan menentukan tingkat kesulitan dalam pembuatannya. Sehingga mutlak dalam pembuatan grafis ini perlu mempelajari dasar-dasar dari AutoCAD sebelumnya. Berikut ini adalah hasil praktikum mata kuliah Komputer Grafis Struktur Bangunan di Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia pada tahun 2012.

Download Laporan Komputer Grafis Struktur Bangunan disini